Ferry Koto

Tebarkan Manfaat

Mental Inferior Yang Harus Di Revolusi

Tinggalkan komentar


Pertemuan antara pimpinan dan anggota DPR RI dengan pengusaha yang juga bakal kandidat Presiden AS, Donald Trump (DT) di Trump Plaza New York City, telah membuat kegaduhan di Indonesia. Pro-kontra pertemuan itu tidak hanya dikalangan elit politik tapi juga jadi perdebatan ditengah masyarakat. Bahkan akibat pertemuan tersebut, yang dianggap melanggar kode etik dewan, saat ini bergulir gugatan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).

Saya pribadi melihat, tidak ada persoalan besar yang pantas diributkan dari pertemuan tersebut. Selain karena DT belumlah menjadi calon Presiden AS, bahkan bakal kandidat dari Partai Republik pun belum. Juga tidak ada yang pantas dikhawatirkan bagi kita sebagai sebuah bangsa yang berdaulat.

Saat berita dan foto-foto pertemuan tersebut beredar di dunia maya, saya menulis di twitter sebuah harapan;

Menanti masa, tokoh dunia merasa terhormat dan bangga jika diberi kesempatan selfie bersama pemimpin Indonesia.

image

Ya, ungkapan kekecewaan rasanya pantas dikemukakan, karena melihat para pemimpin dari negara besar ini, negara yang sudah berdaulat selama 70 tahun, begitu bangga dapat berada sepanggung dan berselfie-ria dengan orang-orang bule yang notabene dari ras bangsa yang dulu pernah menjajah Indonesia.

Mungkin rasa bangga itu yang membuat para anggota Dewan tersebut menjadi lupa segalanya, bahkan bisa jadi juga lupa bahwa setiap gerak-gerik langkah mereka sebagai politisi selalu diperhatikan lawan politiknya, lengah sedikit, terpeleset, pasti akan diterkam !!

Hanya rasa bangga itulah yang bisa saya jadikan analisa, kenapa Pimpinan dan anggota DPR yang demikian powerfull (pakai istilah DT) bisa salah langkah. Memajang wajah nya didepan kamera yang tersiar keseluruh dunia dalam acara konferensi pers seorang bakal kandidat Presiden AS. Dan makin terlihat nyata, rasa bangga itu juga menjerumuskan mereka untuk berselfie-ria, tidak saja dengan DT, tapi juga dengan pemandu sorak, yang ada disana.

Mental Inferior, mungkin ini bisa mewakili kenapa rasa bangga itu muncul. Merasa kalah superior, kalah populer, kalah ternama, kalah pengaruh, sehingga merasa terhormat, merasa bangga bisa sepanggung, bisa berfoto, berselfie-ria dengan orang-orang yang superior.

Terlihat diacara itu jangankan DT bahkan tidak ada satu orang bule pun yang berusaha meminta kesempatan selfie dengan pimpinan DPR tersebut. Entah siapa sebenarnya yang dimaksud powerfull oleh DT.

Sisi lain, ternyata yang inferior dalam kasus ini tidak hanya Pimpinan dan anggota DPR yang hadir disana, tapi juga tokoh-tokoh politik bahkan akademisi yang menyikapi pertemuan itersebut di Indonesia, tidak kalah inferior-nya.

Ada yang berkomentar bahwa kejadian tersebut akan membuat buruk hubungan Indonesia-AS kedepan, apalagi jika DT nanti kalah dalam pemilihan Presiden AS. Ada juga yang khawatir, Indonesia akan dianggap berpihak kesalah-satu kandidat Presiden AS dan mencampuri urusan Politik AS.

Sungguh statemen ini wujud sikap inferior akut. Bagaimana mungkin negara berdaulat sebesar Indonesia khawatir akan masa depannya akibat pergantian pemimpin di negara lain? Khawatir tidak disukai oleh pemimpin negara lain? hanya gara-gara kehadiran pimpinan dan anggota DPR dalam sebuah konferensi pers bakal kandidat, sekali lagi bakal kandidat Presiden AS.

Padahal publik Amerika pun nyaris tidak peduli dengan pertemuan tersebut. Tidak akan ada efek bagi mereka pertanyaa tricky dari DT, tentang disukai dirinya di Indonesia. Tidak ada efek bagi publik AS dengan statemen DT bahwa seorang Pimpinan DPR yang berpengaruh dari negara yang powerfull menemui dirinya.

Warga AS tidak akan terpengaruh dan menjadikan pertemuan tersebut sebagai salah satu alasan mereka memilih Presiden AS, karena mereka merasa superior, memiliki kebangaan dan kepercayaan diri yang tinggi sebagai sebuah bangsa yang tidak dapat didikte bangsa lain.

Melebih-lebihkan pertemuan tersebut makin memperlihatkan kita ini sebagai bangsa Inferior. Apalagi jika kita mau sejenak melihat kebelakang saat Pilpres yang lalu.

Pada Pilpres yang lalu capres Joko Widodo (yang kini Presiden) mengadakan pertemuan dengan Duta Besar AS dan beberapa negara lain. Dan itu juga menjadi keributan saat itu.

Banyak pihak mengkhawatirkan Jokowi sedang meminta dukungan sambil menawarkan sesuatu pada Dubes yang ditemui. Banyak pihak khawatir Indonesia nanti akan dipengaruhi negara-negara tersebut jika Jokowi berkuasa. Dan anehnya saat dubes tersebut menemui Jokowi, yang sudah secara resmi jadi Calon Presiden Indonesia, di AS tidak terjadi keributan, tidak terjadi kekhawatiran, pemerintah AS akan memihak salah satu calon. Tidak ada kekhawatiran nanti hubungan Indonesia-AS akan rusak jika yang menang pilpres bukan Jokowi.

Dari dua kejadian tersebut, terlihat betapa inferior nya kita, selalu merasa bangsa lain bisa mendikte kita, bisa mempengaruhi kehidupan bangsa ini dan kelangsungan negara ini. Dan kita dengan bangga meributkannya, bangga mengabarkan keseluruh dunia kita inferior.

Hemat saya, jika program Revolusi Mental yang didengung-dengungkan Jokowi itu memang ada, maka sesegera mungkin merevousi mental Inferior ini menjadi mental superior perlu diprioritaskan.

Jika tidak, selamanya mungkin kita merasa jadi bangsa yang nasib nya ditentukan bangsa lain. Atau jangan jangan memang begitu ? atau jangan jangan yang inferior ini hanya para pemimpin bangsa saat ini saja? karena belum kapasitas mereka jadi pemimpin. #Entahlah

Penulis: Ferry Koto

Tebarkan manfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s